Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, August 8, 2008

TB Paru - Home care

KONSEP DASAR

A. Defenisi
Tuberculosis Paru adalah penyakit infeksi pada paru yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis yaitu suatu bakteri tahan asam (Suryadi : 387).
Tuberculosis Paru adalah penyakit infeksi yang bersifat kronik dan menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis (Stanley. L. Robbins, M.D, dkk, 1987)
Tuberculosis Paru adalah penyakit akibat infeksi kuman mycobacterium tuberculosis sistemis sehingga hampir semua organ tubuh, dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Arif Mansjoer : 459).

B. Etiologi
Mycobacterium tuberculosa, factor yang menyebabkan, herediter, jenis kelamin, usia, keadaan stress, nutrisi, tidak mematuhi aturan pengobatan.

C. Patofisiologi
Masuknya kuman tuberculosis kedalam tubuh tidak selalu menimbulkan penyakit, infeksi dipengaruhi oleh virulensi dan banyaknya basil tuberkulosis serta daya tahan tubuh manusia .
Segera setelah menghirup basih tuberculosis hidup kedalam paru-paru, maka terjadi eksudasi dan konsolidasi yang terbatas disebut focus primer. Bersamaan dengan terbentuknya kompleks primer terjadi pula hypercensitifitas terhadap tuberkuloprotein yang dapat diketahui, melalui uji tuberculin.

D. Manifestasi Klinis
Demam, anoreksi, berat badan menurun, batuk lama lebih dari 30 hari. Permulaan tuberculosis primer biasanya suka diketahui secara klinis karena mulainya penyakit secara perlahan. Kadang tuberculosis ditemukan pada anak tanpa gejala atau keluhan. Tetapi secara rutin dengan uji tuberculin dapat ditemukan penyakit tersebut.

E. Penatalaksanaan
Menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi basil tuberculosis, mempertahankan status kesehatan dengan intake nutrisi yang dekuat, meminum susu yang sudah dilakukan pasterisasi, isolasi jika pada analisa spuntum terdapat bakteri hingga dilakukan kometerapi, pemberian imunisasi BCG untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh basil tuberculosis virulen.
Regimen dasar pengobatan TB adalah kombinasi INH dan RIF selama 6 bulan dengan PZA pada 2 bulan pertama. Pada TB berat dan ekstrapulmonal biasanya pengobatan dimulai dengan kombinasi 4 – 5 obat selama 2 bulan, dilanjutkan dengan INH dan RIF selama 4 – 10 bulan sesuai perkembangan klinis.

F. Pemeriksaan Penunjang
- Uji serodiagnosis
- Uji biomolekular
- Pemeriksaan fisik
- Radiology
- Kultur spuntum
- Patologi anatomi
- Uji BCG

BAB III
TINJAUAN SECARA TEORITIS

A. Pengkajian
Pengkajian yang harus dilakukan pada penderita Tuberculosis Paru anak meliputi data umum dan dilanjutkan dengan data khusus.
Data umum terdiri dari : nama anak, umur, berat badan, nama ayah, umur, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat, nama ibu, umur, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat.
Data khusus meliputi :
a. Aktifitas / Istirahat
Kelelahan, nafas pendek, sulit tidur pada malam hari.
b. Intagritas Ego
Perasaan tak bedaya, ansietas, ketakutan.
c. Makanan / Cairan
Kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan.
d. Nyeri / Kenyamanan
Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
e. Pernafasan
Batuk, nafas pendek, riwayat tuberculosis.
f. Keamanan
Adanya kondisi penekanan umun.
g. Interaksi Sosial
Perasaan isolasi / penolakan karena penyakit menular.
h. Penyuluhan / Pembejalaran
Riwayat keluarga TB, tidak berpartisipasi dalam terapi.



B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan berhubungan dengan adanya spuntum.
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan batuk.
3. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi.
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia.
5. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan sesak nafas dan batuk berspuntum.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
7. Anxietas orang tua berhubungan dengan kurang informasi dan pengetahuan tentang penyakit anaknya.
8. Resiko penyebarluasan infeksi berhubungan dengan organisme virulen.

C. Rencana Asuhan Keperawatan
1. DX I
Tujuan : Jalan nafas klien kembali normal
Intervensi :
- Kaji tanda-tanda vital sign
- Atur posisi klien dengan semi fowler
- Anjukan anak untuk banyak minum air hangat
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian O2
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui keadaan anak/perkembangan anak selanjutnya
- Agar sesak nafas berkurang
- Untuk membantu mencairkan spuntum
- Agar sesak nafas berkurang dan dapat membantu memenuhi kebutuhan O2 klien
2. DX II
Tujuan : Rasa nyeri klien teratasi / hilang
Intervensi :
- Kaji tingkat skala nyeri
- Atur posisi senyaman mungkin
- Ajarkan batuk efektif
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui sejauh mana nyeri yang dirasakan klien
- Posisi yang nyaman dapat mengurangi nyeri yang dirasakan klien
- Untuk mengeluarkan sebagian spuntum klien
- Agar nyeri yang dirasakan klien berkurang

3. DX III
Tujuan : Suhu tubuh kembali normal
Intervensi :
- Monitor vital sign
- Beri kompres hangat pada daerah axila dan dahi
- Beri banyak minum air hangat
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipiuretik
Rasionalisasi :
- Agar kondisi klien terpenuhi
- Agar suhu tubuh klien menurun
- Dengan minum yang banyak diharapkan dapat keluar melalui urine sehingga panas turun / berkurang
- Untuk membantu menurunkan suhu tubuh klien
4. DX IV
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Intervensi :
- Beri makan porsi kecil tapi sering
- Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi
- Timbang berat badan
- Kolaborasi untuk pemberian nutrisi parenteral jika kebutuhan nutrisi melalui oral tidak mencukupi kebutuhan gizi anak
- Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diit.
Rasionalisasi :
- Agar nutrisi klien dapat terpenuhi
- Agar klien tidak mengalami kekurangan nutrisi
- Untuk mengetahui penurunan atau peningkatan BB klien perhari
- Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi klien
- Agar bisa memberikan diit yang sesuai dengan kebutuhan klien

5. DX V
Tujuan : Istirahat dan tidur klien terpenuhi
Intervensi :
- Kaji penyebab anak tidak bisa tidur
- Ciptakan lingkungan yang tenang
- Batasi pengunjung pada jam istirahat
- Atur posisi klien senyaman mungkin
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui penyebab gangguan tidur pada anak
- Agar klien saat tidur / istirahat tidak terganggu
- Klien dapat beritirahat dengan tenang
- Agar klien dapat tidur dengan nyenyak

6. DX VI
Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas atau kebutuhan aktivitas klien terpenuhi
Intervensi :
- Kaji tingkat aktivitas anak
- Dekatkan kebutuhan yang diperlukan oleh anak
- Beri kesempatan pada anak untuk beraktifitas sendiri
- Beri bantuan jika anak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya.
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui sejauh mana anak bisa melakukan aktivitas
- Mmbantu untuk memenuhi kebutuhan anak lebih cepat
- Untuk memberikan kesempatan pada anak agar biasa beraktivitas secara bertahap
- Untuk memenuhi kebutuhan bila terjadi kesulitan dalam beraktivitas.

7. DX VII
Tujuan : Anxietas orang tua dapat berkurang / hilang
Intervensi :
- Beri penjelasan tentang pengertian, penyebab, pencegahan, pengobatan penyakit
- Beri dorongan mental kepada orang tua
- Anjurkan orang tua berdoa untuk anaknya.

Rasionalisasi :
- Agar orang tua mengerti dan paham dengan keadaan anaknya sehingga tidak sering bertanya lagi
- Agar orang tua lebih sabar dan tabah dengan penyakit anaknya
- Agar orang tua mendapatkan ketenangan jiwa.

8. DX VIII
Tujuan : Tidak terjadi penularan pada orang lain
Intervensi :
- Lakukan teknik septik dan aseptik dalam melakukan tindakan
- Jelaskan pada orang tua tentang cara penularan penyakit tuberculosis
- Anjurkan pada orang tua bila anaknya batuk mengeluarkan dahak dan tidak membuang dahak disembarang tempat
- Anjurkan orang tua klien selalu memperhatikan lingkungan yang sehat.
Rasionalisasi :
- Untuk mencegah penularan dan infeksi silang
- Supaya keluarga mengerti tentang cara penularan sehingga kuman penyakit dapat dihindari
- Agar kuman yang dikeluarkan tidak terhisap oleh orang sehat
- Dengan lingkungan yang sehat bisa meningkatkan daya tahan tubuh.


BAB IV
P E N U T U P

A. Kesimpulan
1. Tuberculosis Paru adalah penyakit infeksi pada paru yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis yaitu suatu bakteri tahan asam .
2. Tuberculosis Paru pada anak merupakan penyakit akibat infeksi kuman mycobakterium tuberculosis sistemik sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh. Dengan lokasi terbanyak diparu yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer.

B. Saran
1. Bagi Klien dan Keluarga
Diharapkan klienmengerti dan memahami penyakit yang sedang dialami , tahu pencegahan, pengobatan dan pemulihan.

2. Bagi Perawat
Diharapkan dalam melakukan tindakan perawatan hendalah sesuai dengan masalah klien berdasarkan kebutuhan baik psikososial dan spiritual sehingga dapat diketahui permasalahn yang ada.





DAFTAR PUSTAKA

www.asuhankeperawatan.com

www.jhon-solution.blogspot.com



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepadap penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan judul “TUBERCULOSIS PARU”.
Kami menyadari tugas ini masih kurang sempurna karena keterbatasan sumber buku dan pengetahuan penulis baik dalam segi materi maupun penyajiannya. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas ini.
Akhirnya penulis mengharapkan semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.



Jambi, April 2007



Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 1

BAB II KONSEP DASAR
A. Defenisi 2
B. Etiologi 2
C. Patofisiologi 2
D. Manifestasi Klinis 3
E. Penatalaksanaan 3

BAB III TINJAUAN KASUS SECARA TEORITIS
A. Pengkajian 4
B. Diagnosa Keperawatan 5
C. Perencanaan 5

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan 10
B. Saran 10

DAFTAR PUSTAKA 11

No comments: